Masih terpeta jelas dalam ingatan saat-saat aku duduk berdua dengan ibunda tercinta, mendengarkan wejangan-wejangan beliau tentang bab “Bagaimana Memilih Calon Suami yang Baik”
. Dalam tiap kesempatan tersebut bunda tak pernah absen menyebut satu nama, mas Yono. Mas Yono adalah suami dari kakak-sepupu jauhku, mbak Rini. Seingatku aku pernah bertemu dengan mas Yono sekali, pada lebaran entah berapa tahun yang lalu. Tapi aku sudah nggak ingat lagi bagaimana wajahnya, karena pertemuan itu cuma sekilas saja.
Mbak Rini punya seorang kakak, namanya mbak Ririn. Sudah menikah, dikaruniai dua orang buah hati. Suaminya tampan (kata bunda sih, aku juga nggak ingat lagi wajahnya, sekalinya aku ketemu dulu sekali ketika mereka menikah dan aku masih terlalu kecil untuk bisa menilai mana yang termasuk pria kategori tampan dan mana yang termasuk pria kategori kurang tampan
), mempunyai posisi penting dalam pekerjaan, mobil dan rumah yang tidak-bisa-disebut-sederhana telah dalam genggaman. Namun semua itu sama sekali tidak ada nilainya. Beberapa kali bunda dan ayah menyaksikan sendiri bekas-bekas luka pada wajah dan bagian-bagian tubuh mbak Ririn. Pernah juga ayah bertemu mbak Ririn dengan perban di kepala bagian belakang, rupanya suami yang ringan tangan dalam arti negatif itu membenturkan kepala mbak Ririn ke tembok…
Tak cukup sampai di situ, sang suami ini juga suka main perempuan.
Aku nggak habis pikir, apa sebenarnya yang membuat mbak Ririn masih bertahan dengan laki-laki seperti itu. Bahkan kalau alasannya anak,
aku pikir lebih baik anak-anak mereka tidak mendengar caci maki sang ayah terhadap ibu mereka ketika sedang kalap, melihat berulang-ulang bagaimana ayah mereka menganiaya sang ibu. “Saya masih cinta…” itu yang selalu diucapkan mbak Ririn sebagai alasan. Well, oke… Mbak mungkin sangat sangat sangat sangat sangat mencintai suami mbak yang luar biasa 'baik' itu, pertanyaannya adalah: apakah dia juga mencintai mbak? Apakah dia menyayangi anak-anak kalian? TIDAK!
Kembali ke bundaku, bunda selalu akan berkata “Contoh mbak Rini, jangan seperti mbak Ririn…”. Menurut bunda, dalam memilih suami, kedua kakak beradik tersebut menggunakan cara yamg berbeda. Dan bunda berharap aku seperti mbak Rini, memilih suami dengan syarat utama harus seiman dan paham serta taat agama (setuju!). Menurut bunda, siapapun yang paham agama dengan baik, pendek kata nggak akan pernah macam-macam (mmm..
maybe…). Masih menurut bunda, syarat calon suami yang berikutnya adalah: menyayangi aku (wajib! Karena Allah pastinya…
), bertanggung jawab terhadap keluarga (absolutely), hormat terhadap orangtua dan mertua (harus itu), menurut bunda nggak penting soal harta berlimpah --"Buat apa banyak duit kalau hati tersiksa" kata bunda-- (yiuuukkk) atau kedudukan tinggi (yups!) ataupun ketampanan (hmm.. kalau yang ini sih nggak janji ya Bunda, kalau bisa dapat yang cakep luar dalam kenapa tidak.. hahakz.. 
).
Pujian selalu keluar dari bibir bunda tercinta manakala beliau bercerita tentang mas Yono. Yang walaupun menurut bunda kalah jauh tampannya kalau dibandingkan dengan suami mbak Ririn, yang hanya bekerja sebagai sopir sebuah pabrik, yang hidupnya sederhana; tetapi sangat menyayangi istrinya. Tidak pernah memarahi istrinya kecuali kalau istrinya melewatkan satu hari saja tanpa mengaji. Santun pada mertua. "Dan ibadahnya itu lho, sip.." cerita bunda sambil mengacungkan jempol. "Kalau ikut pengajian, sampai ke luar kota juga di datangi." tambah bunda.
Selama beberapa tahun terakhir ini, bunda seperti merasa sangat bangga. Kenapa? Sebab ternyata karena menuruti wejangan beliaulah mbak Rini memilih tipe suami seperti mas Yono (wew.. Mum, ternyata bukan aku saja ya yang menerima kuliah bab “Bagaimana Memilih Calon Suami yang Baik”.. hmm..
sepertinya murid-murid bunda di sekolah juga diajarin bab ini deh..
fu fu fu...). Mbak Rini memang dekat dengan bunda. Dulu waktu aku masih kecil dan bunda-ayah baru menempati rumah dinas, mbak Rini sempat tinggal di sana.
Minggu yang lalu, ketika aku mudik untuk ganti kacamata (aku gak rabun lagih!!!
) dalam mobil menuju ke Optik ibu menceritakan kabar yang membuat aku kaget. Mas Yono ternyata ketahuan menikah lagi dengan teman satu pabriknya. Udah punya anak lagi!
Sebenarnya beberapa kerabat yang bekerja satu pabrik dengan mas Yono sudah mencium gelagat itu sejak beberapa waktu yang lalu. Tetapi ketika berita itu disampaikan pada mbak Rini, mbak Rini hanya menganggap itu angin lalu. Mbak Rini sangat percaya pada mas Yono. Kepribadian mas Yono yang nyaris sempurna sebagai suami idaman juga membuat bunda tidak percaya ketika kabar itu pertama kali sampai di telinga bunda.
Bunda yang diminta oleh ibu mbak Rini untuk memperingatkan mbak Rini akan hal tersebut lebih memilih diam. Bunda tidak percaya mas Yono ada main dengan perempuan lain. Dan menurut bunda; dari pada memberitakan hal yang tidak jelas dan tidak pasti, membuat mbak Rini kepikiran, lebih baik bunda diam saja lah.
Tapi pada akhirnya kebenaran terungkap. Mau tidak mau bunda harus percaya bahwa kabar itu bukan sekedar gosip miring ketika ibu mendengar sendiri dari mbak Rini bahwa mas Yono menikah lagi dengan teman satu pabriknya.
Mbak Rini ingin cerai, sementara mas Yono mengaku masih berat melepas mbak Rini. Bunda hanya bisa berpesan apapun keputusan akhir yang diambil oleh mbak Rini, jangan sampai Ami, anak mereka, tahu masalah ini. Bagaimanapun caranya perasaan Ami yang masih TK itu harus di jaga.
Belum selesai keterkejutanku akan kabar dari keluarga mbak Rini, malam harinya ketika aku mengobrol dengan eyang putri sebelum tidur, diawali oleh wejangan-wejangan supaya berhati-hati memilih calon suami (aaarrrggghhh.. kenapa orang-orang rumah demen banget ya membahas tentang pernikahan..
) akhirnya obrolan terbawa sampai ke cerita bahwa ternyata selama ini mbak Yessy, sahabat karib tanteku, pulang ke rumah orangtuanya bukan karena di rumahnya kesulitan air. Tapi karena mbak Yessy tidak tahan lagi suaminya ada main dengan (lagi-lagi..
) teman satu kantornya. Hal itu sudah tercium sejak mbak Yessy akan melahirkan anak pertamanya. Mbak Yessy berpikir kehadiran buah hati mereka akan membuat sang suami kembali pada keluarga. Tapi ternyata malah makin menjadi. Bahkan nafkah untuk dua anak mereka sekarang kadang tak dipenuhi.
... ... ...
Tengah malam hari itu aku benar-benar merasa skeptis. Jadi merasa tidak aman dengan laki-laki. Yang nyaris sempurna pun ternyata bisa tergoda (namanya juga manusia Wind! Dudul lu...). Dan apakah aku nanti harus satu kantor dengan suami supaya suami tidak tergoda?
Beberapa hari yang lalu aku nonton film 'I Think I Love My Wife', di situ dikisahkan seorang suami yang nyaris selingkuh tapi nggak jadi karena ingat anaknya. *garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal* Kok suami-suami di atas nggak kepikiran anaknya atau calon bayinya ya? Dudul tu suami istri lagi hamil gede ditinggal selingkuh..
. Hanya dengan berdasarkan pada kalimat 'poligami diperbolehkan agama' main sosor aja tanpa menggali lagi apa dasar-dasar dan syarat diperbolehkannya.
Aku jadi ingin tahu.. ada nggak sih dalam pikiran mereka niat untuk setia hingga ujung usia pada istri dan anak-anaknya, pada keluarganya, ketika di awal menikah. Atau niat itu luluh lantak di depan setan penggoda bernama perempuan? *sigh*
"Sesungguhnya wanita itu datang dalam gambaran setan dan pergi dalam gambaran setan. Maka apabila salah seorang diantara kamu melihat seorang wanita lantas ia tertarik kepadanya, maka hendaklah ia mendatangi istrinya, karena yang demikian itu dapat menghalangkan hasrat yang ada dalam hatinya itu." (HR Muslim)
"Siapa saja yang melihat seorang wanita yang menarik hatinya, maka hendaklah ia mendatangi istrinya, karena apa yang dimiliki wanita itu ada pula pada istrinya." (ad-Darimi dari ibnu Mas'ud)
P.S. : "hendaklah ia mendatangi istrinya" bukannya "nikahi wanita itu". So, aku pikir nggak segampang itu man kalau mau mengatas-namakan poligami hanya untuk menuruti nafsu.